Entry: FLP : Oase di Jagat Penulisan Apr 19, 2005




Oleh : Aminudin (*)

SUATU sore, di ruang Abu Bakar, kompleks Masjid Salman ITB sekelompok ikhwan-akhwat sedang asyik mendiskusikan sebuah karya sastra yang ditulis salah seorang rekan mereka. Kegiatan pertemuan rutin tersebut diselenggarakan setiap hari Kamis dari pukul 16.00 WIB hingga azan magrib berkumandang. Para pesertanya terdiri atas para muda yang ingin mendalami dunia penulisan fiksi dan nonfiksi.

Adalah Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung yang mewadahi saluran kepenulisan untuk para pembelajar muda di tempat tersebut. Kegiatan pertemuan rutin kepenulisan semacam itu diikuti pula oleh para anggota FLP di kota-kota lain di Indonesia, bahkan sampai luar negeri. FLP Bandung merupakan salah satu cabang yang berada di bawah perwakilan wilayah Jawa Barat.

FLP tidak jauh berbeda dengan komunitas-komunitas pembelajar sastra lainnya, yang menceburkan diri pada kegiatan kepenulisan dan apresiasi sastra. Hanya, komunitas ini lahir dengan membawa bendera keislaman. Dan keislaman tersebut tidak hanya dijadikan label. Itulah yang menjadi ciri khusus dari komunitas ini.

Awal tumbuh kembang FLP

Forum Lingkar Pena (FLP) berdiri pada 22 Februari 1997 oleh "tiga Srikandi": Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Muthmainah. Ide pendirinya berawal dari keprihatinan terhadap minimnya minat kaum muda dalam bidang membaca dan menulis. FLP berusaha mewadahi potensi kepenulisan kaum muda tersebut dengan mengadakan pembinaan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tulisan.

Komunitas yang mengambil lambang pena melingkari bumi -- sebagai logo awal -- mengadakan pertemuan rutin bagi para anggotanya dan mengundang pembicara tamu dari kalangan jurnalis, cendikiawan, dan sastrawan. Keangotaan FLP terbuka bagi mereka yang berusia 13 tahun ke atas dan berdomisili di seluruh Indonesia atau tengah bersekolah di luar negeri.

Adapun visi organisasi kepenulisan ini adalah membangun para muda penulis yang berkualitas di Indonesia dan mancanegara. Sedangkan misinya adalah menjadi wadah penulis bagi jurnalis, pengarang, dan peneliti muda yang berpotensi, serta meningkatkan mutu dan produktivitas tulisan, turut meningkatkan budaya menulis dan membaca, menjadi organisasi kader yang mempersiapkan "penulis pelapis".

FLP pun membuka diri bagi calon anggota non-muslim asalkan mempunyai minat besar terhadap Islam dan tulis menulis. Kebanyakan anggota FLP adalah para pelajar, mahasiswa, pegawai negeri, guru, pengarang, jurnalis, ibu rumah tangga. Tercatat beberapa penulis yang bergabung dengan FLP, antara lain: Pipiet Senja, Yus R. Ismail, Gola Gong, Halfino Berry, M. Irfan Hidayatullah, Ahmadun Y. Herfanda, dll.

Dalam waktu yang relatif singkat, organisasi kepenulisan ini telah mempunyai cabang di hampir 30 provinsi dan di mancanegara dengan jumlah anggota sekitar 5.000 orang, dan hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, ada 500 orang yang termasuk kategori aktif menulis di media massa dan sebanyak 4.500 anggota termasuk ke dalam kategori "pembinaan".

Adapun kegiatan organisasi kepenulisan ini adalah mengadakan pertemuan mingguan dan bulanan, mengadakan pelatihan fiksi dan nonfiksi, mengirimkan tulisan ke berbagai media massa dan penerbit, membuat skenario teater, menggalakkan kampanye gemar membaca dan menulis ke SMP - SMA dan pesantren di Indonesia.

Sebagai sarana munculnya karya-karya sastra anggota FLP, tak lepas dari peran majalah Annida yang dipimpin oleh Helvy Tiana Rosa. Majalah yang bertiras lebih dari seratus ribu eksemplar ini sekaligus juga menjadi media informasi dan perekrutan anggota FLP. Sekitar 75% penulis majalah Annida bergabung dengan FLP.

Forum Lingkar Pena: berbakti, berkarya dan berarti

"Forum Lingkar Pena adalah hadiah Allah untuk Indonesia", begitu ucap Taufiq Ismail pada acara Silaturahmi Nasional dan Milad ke-5 FLP di Gedung Dinas Kebudayaan DKI, 6 - 7 Juli 2003. Tak berlebihan kiranya penyair senior tersebut berkata demikian. Selain jumlah anggota yang terhitung besar dan jaringan organisasi yang baik, FLP pun berkiprah dengan dilandasi kecintaan pada agama. Hal ini terlihat lewat rajutan kebersamaan akan semangat persaudaraan sebagai sesama muslim.

Dengan dilandasi semangat dakwah, FLP membuktikan diri dengan istiqamah membaktikan diri menyeru pada kebaikan dengan landasan yang nyar'i. Hal yang menjadi nawaitu tersebut, bahwa sebuah karya mesti lahir dari kejujuran dan manifestasi diri untuk kebaikan, bukan kemunafikan. Jadi, sebuah karya yang lahir dengan muatan nilai kemanusian harus pula dibarengi sikap (akhlak) dari si penulis atau pengarangnya.

Lewat moto: "berbakti, berkarya, dan berarti", FLP telah menjadi fenomena baru di Indonesia. Dari hari ke hari telah lahir penulis-penulis baru dari pola regenerasi yang baik. Selain itu, anggota FLP telah memberi pencerahan bagi dunia penulisan dan minat baca. Telah beratus-ratus judul buku yang dihasilkan oleh para anggota FLP.

Selain itu, FLP sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang melingkupi kegiatan-kegiatannya. Buku antologi cerpen FLP, "Doa untuk Sebuah Negeri" (As-Syaamil), yang merupakan karya para perempuan pengarang FLP Aceh didedikasikan bagi para anak, janda, dan pengungsi Aceh. Ada pula "Merah di Jenin" yang merupakan karya bersama anggota FLP, didedikasikan bagi anak-anak Palestina. Walaupun bukunya baru diluncurkan, FLP menyumbangkan royalti buku tersebut untuk anak-anak Palestina melalui MER-C. Cermin Malam Ganjil", buku antologi FLP, didedikasikan bagi sastrawan Yusach Ananda. Yusach Ananda, yang pernah disebut HB Jassin sebagai salah satu baromater sastra Indoensia tahun 1950, dalam usia 68 tahun -- sambil terus menulis -- beliau berjualan es di kantin sebuah SD di Kalimantan Barat.

FLP lahir dengan membawa angin segar bagi perkembangan dunia membaca dan menulis di Indonesia. Dan kepedulian itu pun telah dijajaki oleh FLP untuk generasi bangsa selanjutnya dengan mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Kids. Melalui wadah baru ini, telah lahir penulis-penulis cilik yang patut diperhitungkan, di antaranya Sri Izzati dan Faiz. Kedua bocah berusia 8 tahun tersebut telah menerbitkan buku fiksi sendiri. Suatu hal yang patut dihargai dan ditindak-lanjuti ini untuk menciptakan budaya yang lebih maju!*** 

*) Penulis editor di sebuah penerbitan di Bandung dan penikmat karya sastra.*

(Sumber: Harian Umum Pikiran Rakyat)

   2 comments

Rahmah
June 14, 2009   05:51 PM PDT
 
Pengen gabung.. Kpn di buka pendaftarannya? Mhon infox ke rha2.difas@gmail.com
Egi
December 12, 2007   01:34 AM PST
 
Hlo lam kenal...
Klo ada info kumpul2 atau kegiatan bareng krimin k.mail Q y..
Nih.. mail na:
aggie168@gmail.com
Thanx b4

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments